Siapa itu Mu’tazilah? / Asal Nama Mu’tazilah

❓Pertanyaan:

Semoga Allah menganugerahkan kebaikan untuk Anda, seorang penanya berkata:

“Siapakah mu’tazilah itu? Kenapa mereka disebut demikian?”

✅Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-fauzan hafizhahullah menjawab:

“al-mu’tazilah adalah pengikut washil bin ‘atho’, murid al-Hasan al-Bashri. Dia dahulunya murid al-Hasan al-Bashri –rahimahullah- imamnya tabi’in.

Ketika al-Hasan al-Bashri ditanya (di majelisnya) tentang pelaku dosa besar “apakah ia mukmin atau kafir?” Beliau rahimahullah menjawab:

“Pelaku dosa besar adalah fasik dan tidak kafir. Mukmin namun kurang kadar keimanannya. Bukan kafir.”

Washil bin ‘atho yang ia (saat itu) murid beliau berkata(menyela):

“Adapun aku maka aku katakan “tidak muslim dan tidak kafir”. Dia berada pada satu kedudukan di antara dua kedudukan.”

Maka ia membuat madzhab ini :

المنزلة بين المنزلتين

“Suatu kedudukan di antara dua kedudukan (yaitu bukan mukmin bukan kafir,pent,)”

Apakah ada satu makhluk yang ia bukan muslim dan bukan kafir? Suatu kemestian seseorang itu muslim atau kafir.

Adapun seorang muslim terkadang kurang keimanannya dan terkadang sempurna.

Kemudian ia melakukan i’tizal (menyepi) dari majelis al-Hasan. Dan pengikutnya ikut bergabung bersamanya. Mereka pun disebut mu’tazilah sebab mereka menyepi dari majelis al-Hasan al-Bashri. Demikian.

Sumber Audio: https://soundcloud.com/abd-errahim/0f75geilit6e

—————————————————–

❓السؤال:أحسن الله إليكم يقول السائل: من هم المعتزلة؟ ولماذا سموا بذلك؟

🎙الجواب:

المعتزلة أتباع واصل بن عطا تلميذ الحسن البصري كان من تلميذ الحسن البصري رحمه الله إمام التابعين، فلما سُئُل الحسن البصري عن مرتكبي الكبيرة هل هو كافر أو مؤمن؟ قال رحمه الله: مرتكب الكبيرة فاسق وليس بكافر، مؤمن لكنه ناقص الإيمان، وليس بكافر، قال واصل بن عطا وهو تلميذه أما أنا فأقول ليس بمسلم ولا بكافر هو في المنزلة بين منزلتين فأحدث هذا المذهب المنزلة بين المنزلتين لا مسلم ولا كافر، هل هو أحد من الخلق ليس بمسلم ولا كافر؟ لابد أنه إما مسلم وإما كافر، والمسلم قد يكون ناقص الإيمان وقد يكون كامل الإيمان فاعتزل مجلس الحسن وانضم إليه أتباعه وسموا بالمعتزلة لأنهم اعتزلوا مجلس الحسن البصري، نعم.

Petikan faidah dan hikmah dari kisah ini:

1. Seorang mukmin tidak menjadi kafir dengan sebab kemaksiatan yang ia lakukan. Walaupun termasuk jenis dosa besar.

2. Pentingnya bertanya tentang hal yang tidak diketahui. Terkhusus permasalahan yang terkait dengan amalan penyebab masuk surga dan neraka.

3. Bertanya kepada ahlul ilmi yang diakui keilmuannya.

4. Bahaya berbicara tanpa ilmu. Lihatlah atho’ yang ikut berfatwa seolah-olah ia orang yang lebih tahu dari gurunya.

5. Bahaya beradab jelek terhadap orang yang berilmu. Lihatlah atho’ ikut menjawab pertanyaan padahal yang ditanya adalah gurunya yang jelas lebih berilmu darinya.

6. Bahaya ikut campur dalam urusan dakwah yang ia tidak memiliki ilmu di dalamnya.

7. Bahaya ilmu yang tidak kokoh.

8. Bahaya ikut nimbrung dalam urusan yang tidak dikuasai.

9. Bahaya menonjolkan pendapat pribadi daripada ucapan yang berdasar dalil.

10. Bahaya masuk ke dalam dialog ilmiah yang ia tidak mampu mencerna faidah di dalamnya. Kemudian berkomentar dengan ketidakpahamannya.

11. Bahaya berprasangka jelek terhadap orang yang berilmu. Dan menyangka dirinya lebih memahami agama Allah.

12. Bahaya tidak ikhlash dalam mencari ilmu.

13. Bahaya tidak menahan lisan di majelis ilmu.

Alih bahasa: Al ustadz Abu Yahya Abdullah حفظه الله.

Dikutip dari: Group WA salafiy Sumatera.

📶 Turut Publikasi:
⏬⏬⏬
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡🗃 *Media al-Haq*
_Menebar Cahaya Kebenaran_

📟▶️ Join Telegram https://telegram.me/buletinalhaq
💻 Situs Resmi http://www.buletin-alhaq.net

~~~~~~~~~~~~~~~~~

BAGAIMANA CARA MENYAMPAIKAN DAKWAH SALAFIYYAH KE MASYARAKAT AWAM?

⭕️ – asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah,

❓Tanya :

“Bagaimana dakwah (mengajak) masyarakat awam kepada Salafiyyah; Manhaj Salafush Shalih, khususnya mereka telah tergantung (simpati) kepada sebagian da’i yang jelek ?”

✅Jawab :

“Allah telah meletakkan untuk kita manhaj dalam berdakwah. Allah berfirman kepada Nabi-Nya :

«ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ »

“Serulah (berdakwahlah) ke jalan (agama) Rabb-mu dengan cara hikmah, nasehat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dia lebih tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih tahu orang-orang yang mendapat hidayah.” [ an-Nahl : 125 ]

Dakwah ke jalan (agama) Allah dengan cara hikmah. Hikmah adalah ilmu, penjelasan, dan argumentasi. Jadi engkau berdakwah dengan ilmu, akhlak yang baik, lembut, dan halus, baik kepada awam maupun bukan awam. Namun awam akan lebih banyak bisa menerima. Dia akan bisa menerima kebenaran darimu tanpa ada perdebatan.

Jika dibutuhkan debat, yakni (karena) padanya ada sikap penolakan, atau ada keterkaitan dengan kebatilan, maka debatilah dia dengan cara yang lebih baik.

Allah Ta’ala berfirman,

« وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)»

“Tidak sama antara kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka orang yang antara kamu dengannya ada permusuhan tiba-tiba akan menjadi teman dekat. Maka (sifat-sifat baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar, dan tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” [ Fushilat : 34 – 35 ]

Tidak akan diberi hikmah kecuali orang yang memiliki keuntungan yang sangat besar.”

سئل الشَّـيخ العلّامــة رَبِيع بنُ هَادِي المَدْخَلِي -حَـفِظَهُ الله-:

السُّــــ☟ـــؤَالُ:

كيف تكون دعوة عوام الناس إلى السلفية؛ منهج السلف الصالح، خاصة وقد تعلقوا ببعض دعاة السوء والشر؟

الجَـــ☟ـــوَابُ:

” … الله وضع لنا منهجاً للدعوة إلى إليه، الله قال لنبيه: «ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ » [النحل:125]

الدعوة إلى الله بالحكمة، والحكمة هي العلم والبيان والحجة فتدعو بالعلم وبالأخلاق الطيبة وبالرفق واللين، العامي وغير العامي، لكن العامي أكثر تقبلاً، وقد يقبل منك الحق بدون مجادلة،

فإن احتاج إلى مجادلة، كان عنده شيء من المناعة، شيء من التعلق بالباطل فجادله بالتي هي أحسن: « وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)» [فصلت:34-35]، فما يعطى هذه الحكمة إلا ذو حظ عظيم “.

المصــدَرُ :

[http://www.rabee.net/ar/questions.php?cat=27&id=194]

Sumber: https://manhajul-anbiya.net/bagaimana-cara-menyampaikan-dakwah-salafiyyah-masyarakat-awam/

📶 Publikasi:
⏬⏬⏬

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡🗃 *Media al-Haq*
_Menebar Cahaya Kebenaran_

📟▶️ Join Telegram https://telegram.me/buletinalhaq
💻 Situs Resmi http://www.buletin-alhaq.net

~~~~~~~~~~~~~~~~~

BIMBINGAN DALAM MENGHADAPI FITNAH “ASH-SHA’AFIQAH

Sebuah artikel penting untuk diketahui Salafiyyin, karena di dalamnya terkandung fatwa dan nasehat *al-‘Allamah al-Muhaddits al-Mujahid al-Walid asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair al-Madkhali* _hafizhahullah_, terkait fitnah yang memecah belah salafiyyin di berbagai negara akhir-akhir ini. Sebuah fitnah yang dinamakan sebagai fitnah “ash-Sha’afiqah.”

*PENJELASAN*
*AL-‘ALLAMAH RABI’ BIN HADI AL-MADKHALI hafizhahullah*
*Terkait FITNAH “ASH-SHA’AFIQAH”*

📇 Unduh file PDF di sini
📥 http://bit.ly/2FZXuXL

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu’ah Manhajul Anbiya
📟▶️ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~~~~~~~~~

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Diposting ulang :

📮 *WhatsApp SaLaM || Salafy Makassar*
_Mempererat Ukhuwah dengan Salam_

🔵 *Channel Telegram* https://t.me/salafymakassar

🖥 *Website* http://salafymakassar.net

⏬⏬⏬

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡🗃 *Media al-Haq*
_Menebar Cahaya Kebenaran_

📟▶ Join Telegram https://telegram.me/buletinalhaq
💻 Situs Resmi http://www.buletin-alhaq.net

Aman dan Selamat dengan Bermanhaj Salaf

✍🏻 Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan _—hafidzahullah—_ berkata,

☝🏻 “Apabila kamu menginginkan keamanan, kebahagiaan, dan keselamatan dari kesesatan
👉🏻 maka wajib atasmu (berpegang,-pen) dengan manhaj salaf.”

📚 [ _Syarh Ad-Durrah Al-Mudhiyyah,_ _hlm: 279_ ]

➖➖➖➖➖➖➖➖➖

‏🔺قال العلامة صالح الفوزان حفظه الله-:

“إذا أردت النّجاة وأردت السّعادة وأردت السّلامة من الضّلال فعليك بمنهج السّلف”

📘 شرح الدرة المضية – صـ279

__________
📟 ⏩ Join Telegram http://telegram.me/buletinalhaq
💻 ⏩ Situs Resmi http://www.buletin-alhaq.net
__________
🗃 *Group Media al-Haq* 🗃

Mengambil dari Al-Qur’an dan Sunnah dengan Pemahaman para Shahabat

✍🏻 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

👉🏻 “Barang siapa yang mengira dia mengambil dari al-Qur’an dan Sunnah tanpa mengikuti para shahabat dan mengikuti selain jalannya mereka,
💥 maka dia termasuk dari ahlil bida’ (pelaku kebid’ahan).”

📚 [Sumber: Mukhtashar Al-Fatawa Al-Mishriyyah, hlm: 556]

➖➖➖➖➖➖➖➖➖

❐ قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله :

من ظن أنه يأخذ من الكتاب والسنة بـدون أن يقـتَـدي بالصّـحابـة ويتبِع غَـيــر سَبيلهم فَـهو من أهل_البدع

📚المصدر : مختصرالفتاوى المصرية ص٥٥٦📚

__________
📟 ⏩ Join Telegram http://telegram.me/buletinalhaq
💻 ⏩ Situs Resmi http://www.buletin-alhaq.net
__________
🗃 Group Media al-Haq 🗃

BIMBINGAN INDAH ISLAM TERKAIT HUBUNGAN RAKYAT KEPADA PEMERINTAHNYA

BIMBINGAN INDAH ISLAM TERKAIT HUBUNGAN RAKYAT KEPADA PEMERINTAHNYA

Wahai saudaraku yang semoga dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam kitabnya majmu’ fatawa (28/290-291), “60 tahun dipimpin oleh seorang imam yang fajir (dzalim) lebih baik dari satu malam tanpa seorang pemimpin”. Ucapan ini diucapkan oleh seorang alim yang pada zamannya beliau dipenjara oleh pemimpin-nya sendiri. Dan hingga akhir hayat beliau tetap dalam penjara, semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa merahmati beliau. (Al-Bidayah wan Nihayah: 14/156)

Taat kepada pemerintah muslim
Taat kepada pemerintah muslim adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala kepada orang-orang yang beriman sebagaimana firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ…

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta pemimpin di antara kalian…” (QS. an-Nisa’: 59)

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan perintah taat kepada-Nya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penegasan berulang kata athi’u (taatilah). Sedangkan penyebutan pemimpin tidak disebutkan secara khusus kata athi’u. Hal itu menunjukkan bahwa untuk Allah dan Rasul-Nya, ketaatan kepadanya adalah mutlak. Sedangkan terhadap pemimpin ketaatan kepadanya adalah selama tidak bertentangan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, “mendengar dan taat kepada para imam dan amirul mukminin (pemimpin kaum mukminin), baik yang shalih (adil) maupun yang fajir (dzalim), dan taat kepada khalifah yang disepakati dan diridhai oleh kaum mukminin”. (Syarah Ushul I’tiqad 1/160-161).

Taat dalam hal-hal yang ma’ruf
Perintah pemerintah muslim haruslah ditaati jika merupakan kewajiban dalam agama atau sesuatu yang mubah (boleh) dalam agama.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

 

“Hanyalah ketaatan itu dalam hal yang ma’ruf (tidak dilarang oleh Allah)” (HR. al-Bukhari no 6612 dan Muslim no 3424)

Taat kepada pemerintah berarti dia telah taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan bahwa ketaatan kepada pemimpin muslim dalam hal yang mubah pada dasarnya adalah ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya:

 

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ أَطَاعَ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي

 

“Barangsiapa yang taat kepadaku, maka sungguh ia telah taat kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada pemimpin, maka sungguh ia telah taat kepadaku”. (HR. Ahmad no 8149, asalnya ada dalam riwayat Muslim, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Taat kepada pemerintah sebab masuknya ke dalam jannah (surga)
Wahai pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Ketaatan kepada pemerintah muslim itu adalah suatu ibadah, sebagaimana halnya ibadah shalat, puasa, zakat dan lain-lain. Yang mana kita berharap dengan mengerjakannya bisa mengantarkan kita masuk ke dalam jannah Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbahnya pada saat Haji Wada’ (haji perpisahan, di tahun meninggalnya beliau),

 

اتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ وَصَلُّوا خَمْسَكُمْ وَصُومُوا شَهْرَكُمْ وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ وَأَطِيعُوا ذَا أَمْرِكُمْ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ

 

“Bertakwalah kalian kepada Allah, shalatlah 5 waktu, puasalah di bulan kalian (Ramadhan), tunaikan zakat harta kalian, dan taatilah pemimpin kalian, niscaya kalian akan masuk surga (milik) Rabb kalian”. (HR. at-Tirmidzi no 559, dishahihkan oleh al-Hakim, Ibnu Khuzaimah, dan al-Albany rahimahumullah).

Tidak ada ketaatan dalam ber-maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala
Kita sebagai hamba Allah ‘azza wa jalla tidak diperbolehkan mentaati pemimpin atau siapapun apabila mereka memerintahkan kita untuk bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Berikut ini kami akan sebutkan beberapa hadits yang menunjukkan larangan tersebut:

 

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

 

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal bermaksiat kepada Allah ‘azza wa jalla”. (HR. Ahmad no 1041 dari Ali bin Abi Tholib dengan sanad yang shahih sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim).
Dan juga sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

 

“Bersikap mendengar dan taat (kepada pemimpin muslim) adalah wajib bagi setiap muslim dalam hal-hal yang disukai atau dibenci, selama tidak diperintah pada perbuatan maksiat. Jika diperintah pada kemaksiatan, maka tidak ada sikap mendengar dan taat”. (HR. al-Bukhari no 2735 dan Muslim no 3423).

Dan juga sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam

 

إِنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا

 

“Sesungguhnya kalian akan dipimpin oleh para penguasa yang kalian kenal dan kalian ingkari. Barangsiapa yang membenci (perbuatan kemungkarannya), maka ia telah berlepas diri, barangsiapa yang mengingkari maka ia telah selamat. Tetapi yang tidak diperbolehkan adalah orang yang ridha dan mengikutinya. Para Sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah sebaiknya kami perangi mereka?’ Nabi menjawab, ‘Jangan, selama mereka masih shalat”. (HR. Muslim no 3446).

Dan juga sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

مَنْ وَلِيَ عَلَيْهِ وَالٍ فَرَآهُ يَأْتِي شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَلَا يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

 

“Barangsiapa yang memiliki pemimpin, kemudian dia lihat pemimpin tersebut melakukan kemaksiatan kepada Allah, maka bencilah kemaksiatannya itu, namun jangan cabut ketaatan (secara menyeluruh)”. (HR. Muslim no 3448).

Wahai saudaraku yang semoga dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Setelah kita membaca hadits-hadits di atas maka jelaslah bahwa kita tidak diperbolehkan untuk taat kepada pemimpin kita ketika ia memerintahkan pada perbuatan maksiat. Namun, hal yang perlu senantiasa kita ingat selalu wahai saudaraku adalah, kita pun dilarang untuk mencabut ketaatan secara menyeluruh terhadap pemerintah, walaupun kita dapati pemerintah melakukan kemaksiatan, kita hanya bisa (sebatas) membenci dan berlepas diri dari kemaksiatan yang dia perbuat, tanpa menjadikan itu sebagai sebab atau alasan untuk kita tidak mau mentaatinya lagi, sekalipun dalam perkara-perkara ma’ruf yang dia perintahkan. Tentunya, dalam hal-hal  yang ma’ruf tetap kita harus taat kepadanya.

Wasiat dan bimbingan baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ini telah dilakukan oleh generasi-generasi jauh sebelum kita. Diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimakumullah , yang mana kisah mereka berdua sangatlah terkenal.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada para pemerintah kaum muslimin dan melindungi mereka dari perbuatan-perbuatan kemaksiatan.

Amin ya Mujibad Da’awat

Sumber: salafy.or.id – Penjelasan Syarhus Sunnah Lil Muzani. Abu Utsman Kharisman. 2013. Akidah al-Muzani. Pustaka Hudaya dengan sedikit perubahan tanpa merubah makna.