Termasuk dari Sunnah manusia menghadap sang khatib hari Jum’at

📜 Dari Muthi’ bin al-Hakam —radhiyallahu anhu—,

👉🏻 “sesungguhnya Nabi shallallahu’alaihi wasallam dahulu ketika menaiki mimbar kami menghadapkan wajah-wajah kami kepadanya”.

📚 [ As-Silsilah Ash-Shahihah: 2080 ]

➖➖➖➖➖➖➖➖➖

🌴 من السنة استقبال الناس للخطيب يوم الجمعة

عن مطيع بن الحكم -رضي الله عنه- :
« أن النبي صلى الله عيه وسلم كان إذا صعد المنبر ؛ أقبلنا بوجوهنا إليه »

📜 [السلسلة الصحيحة:2080]

______
📟 ⏩ Join Telegram http://telegram.me/buletinalhaq
💻 ⏩ Situs Resmi http://www.buletin-alhaq.net
______
🗃 Group Media al-Haq 🗃

Syubhat dan Bantahan Seputar Pemilu

Fatwa asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah:

❓Soal:

Sebagian orang berkata: ”Jika salafiyun tidak masuk ke kancah parlemen dan pemilu, mereka tinggalkan hak-hak tersebut untuk kaum liberal”. Apa tanggapan kalian terhadap hal ini? [Kaset yang berjudul: Waqafat fil Manhaj Al-Kuwait 2-1423]

✅ Jawaban:

Wallahi, aku pandang jika mereka memasuki parlemen niscaya mereka menjadi perangkat bagi ilmaniyin (kaum liberal yang memisahkan kepemerintahan dan agama, pen). Orang-orang menyangka bahwa jika mereka memasuki parlemen, mereka akan mengusir kaum liberal dari kursi-kursi tersebut dan menduduki jatahnya. Apakah hal ini diwujudkan oleh orang yang ikut andil pada parlemen?

Apakah mereka berhasil mengusir ilmaniyin dari kursi-kursi mereka? Atau tidak semakin menambah kaum ilmaniyin selain kekokohan. Karena ketika mereka menyaingi (kaum liberal), mereka siapkan perbekalan, tegakkan kekerasan dan persaingan. Engkau ingin mengalahkannya sementara ia pun ingin mengalahkanmu. Pada akhirnya dia mengalahkanmu. Hal ini dikarenakan engkau tidak menempuh jalan syar’i yang melazimkan pertolongan Allah –Tabaraka Wata’ala–. Ini merupakan perkara yang makruf.

Apakah Ikhwanul Muslimin sukses ketika masuk parlemen di Suria, Iraq, Mesir, dan negeri-negeri yang lainnya? Apakah mereka berhasil dan agama Islam tegak?

Tidak ada hasilnya selain kaum Ba’tsiyin, komunis, dan sekutu-sekutu mereka dari kalangan Nashrani dan yang lainnya semakin kuat. Kekuatannya semakin bertambah sementara mereka semakin lemah. Apa yang mereka wujudkan?

Wahai saudaraku, kami katakan kepada kalian: ‘Tempuhlah jalan dakwah kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik. Bimbing umat manusia, sebagaimana yang dilakukan oleh para nabi. Para nabi datang (mendakwahi) umat yang sangat melampaui batas. Terkadang di antara mereka, ada yang memiliki parlemen atau yang setara dengannya, para nabi tidak bangkit menyaingi (umat-umat tersebut untuk merebut) kursi-kursi kepimpinan, semata-mata untuk memperbaiki jiwa-jiwa mereka. Para nabi tidak mengatakan hal yang demikian.’

Ibrahim ‘alahish shalatu wassalam datang (membawa syariat Allah) ketika ada raja zhalim yang dipertuhankan. Demi Allah, dia tidak mengatakan: ‘Saya akan memasuki parlemen, lalu saya akan memperbaiki keadaan umat ini dengan ajaran Islam’. Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam, orang-orang kafir Quraisy tawarkan kepadanya kerajaan Makkah, beliau enggan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam enggan (untuk menerima tawaran tersebut, pen). Beliau tempuh jalan berdakwah kepada Allah dan menyelamatkan umat manusia dari kesyirikan dan kesesatan.

Apakah kalian, dengan cara mendesak kaum ilmaniyin, kalian hancurkan kesyirikan, kesesatan, dan pemahaman liberal (yang memisahkan kepemerintahan dan agama, pen) atau justru kalian kuatkan mereka?

Ketika engkau bagi-bagikan materi-materi kekafiran, engkau memuliakan, mengamalkan, dan membenarkannya. Bukankah engkau semakin menguatkan dan mengkokohkan kekufuran tersebut, dan kaki-kaki orang-orang kafir semakin kokoh dalam melawan Islam?

Saya tanyakan: ‘Jika mereka berkuasa di mesir –sehingga kita bisa menjadikan mereka sebagai teladan–, mewujudkan sesuatu (yang mereka dambakan, pen), mengalahkan kaum ilmaniyin, mengusir dan menduduki kursi-kursi mereka dan menguasai mereka. Jika mereka melakukan dan mewujudkan hal yang demikian, kita lihat perkaranya, mungkin kita menyontoh mereka. Kita katakan: ‘Demi Allah, mereka berhasil pada perkara ini, tentunya kitapun berhasil dalam perkara ini.’ Namun kita tidak temukan selain kegagalan. Kita tidak dapatkan selain keterbengkalaian. Kita tidak temukan selain dukungan terhadap kebatilan. Kita tidak dapati selain menyibukkan para pemuda (hingga lalai) terhadap dakwah kepada Allah.

Bahkan mereka mengajarkan kedustaan dan menebarkan berita-berita dusta, demi membela orang yang mereka calonkan untuk mendapatkan kursi. Mengajari para pemuda untuk menyodorkan sogokan dan menerimanya. Sehingga mereka rusak akhlak para pemuda. Berapa banyak akhlak yang dirusak akibat pemilu, coblosan, dan persaingan tersebut. Berapa banyak akhlak yang dirusak. Kedustaan,penyuapan, khianat, penipuan, … dan … dan… dan seterusnya.

Akibat aktifitas ini, dakwah ke jalan Allah Tabaraka Wata’ala binasa. Jalan yang benar adalah dakwah yang shahih di jalan Allah Tabaraka Wata’ala, meluruskan akidah, dan mengikat kaum muslimin dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Menumbuhkan penilaian manusia bahwa engkau tidak menginginkan sedikitpun dari dunia mereka, engkau tidak menginginkan selain apa yang bermanfaat bagi mereka, hingga engkau bisa meyakinkan hal demikian kepada pemilik kursi tersebut. Engkau katakan: ‘Wallahi, aku tidak menginginkan apapun, biarkan kursimu itu untukmu’. Berangkatlah kamu, daripada engkau bersaing dan bergulat dengannya demi mendapatkan kursinya, berangkatlah ke rumahnya, sodorkan kepadanya nasehat yang sarat akan dalil, semoga Allah memberi hidayah kepadanya melaluimu.

Ini adalah cara yang paling baik, daripada kamu beradu dan bersaing dengannya, masuk melakukan penyuapan dan kedustaan, sehingga orang ilmani ini tidak menerimamu dan orang yang lainnya tidak menyambut ajakkanmu, karena dia tahu bahwa sesungguhnya kamu bertindak karena ingin mendapatkan kursi, harta, dunia, dan jabatan. Namun ketika engkau membawa dakwah yang bersih (dari semua tendensi tadi, pen), engkau tidak ingin menyaingi perdagangan, kekuasaan, dan kursi mereka, sesungguhnya kita hanya ingin menghadiahkan kebaikan dan menyuguhkan kebenaran bagi mereka, semoga Allah Tabaraka Wata’ala ridha terhadap mereka, sehingga mereka bahagia di dunia dan di akhirat.

Adapun jika kita datang bergulat dan bertinju, manusia tidak membutuhkanmu ketika mereka melihat bahwa engkau melakukan pertinjuan dan pergulatan untuk meraih kursi-kursi (jabatan tersebut, pen). Bukankah dakwah salafiyah di Kuwait melemah setelah salafiyin atau orang yang menamakan dirinya sebagai salafiyin mengajak ke pemilu, parlemen, dan pergerakan yang beraneka ragam. Dakwah salafiyah lemah. Seandainya mereka tetap berada pada jalan mereka yang semula, tidak jarang para pejabat tersebut menjadi orang-orang yang berjalan di atas kebenaran, pemerintahan menjadi terbimbing, dan berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam.

Sumber:

Fatawa Fadhilatisy Syaikh Rabi’ al-Madkhali 1/213-215

Alih bahasa:

Abu Bakar Abdullah bin Ali Al-Jombangi

📶 Publikasi
⏬⏬⏬
•••••••••••••••••
🌠📝📡🗃 Media al-Haq
Menebar Cahaya Kebenaran

📟▶️ Join Telegram https://telegram.me/buletinalhaq
💻 Situs Resmi http://www.buletin-alhaq.net

~~~~~~~~~~~~~~~~~

KAPAN MENJAMAK DAN MENGQASHAR SHALAT KETIKA SAFAR

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

❓Pertanyaan: Kami beberapa orang keluar ke daratan untuk tamasya dan mencari kam’ah (terfezia, sejenis jamur untuk pengobatan -pent), dan terkadang kami keluar hanya untuk tamasya saja, sedangkan tempat wisata tersebut dekat dengan negeri kami sejarak 80 km, dan terkadang kami hanya meninggalkan daerah sejauh 10 km dan di sore hari kami sudah pulang, maka apakah boleh bagi kami untuk menjamak dan mengqashar, atau hanya mengqashar tanpa menjamak, atau semuanya tidak boleh bagi kami, sehingga kami harus mengerjakan semua shalat pada waktunya? Jelaskan kepada kami, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

✅Jawaban: Jika seorang muslim melakukan safar sejauh 80 km atau lebih dalam rangka tamasya atau berburu atau hal-hal yang mubah lainnya, maka disyariatkan baginya untuk mengqashar dengan meringkas shalat 4 raka’at menjadi 2 raka’at, dan boleh baginya untuk menjamak shalat zhuhur dengan ashar serta maghrib dengan isya’, boleh jamak taqdim atau jamak ta’khir, sesuai dengan apa yang dia pandang lebih nyaman baginya. Namun jika dia turun dari kendaraan untuk beristirahat maka tidak menjamak lebih afdhal, jadi dia mengerjakan semua shalat pada waktunya dengan tetap boleh untuk mengqashar, karena Nabi shallallahu alaihi was sallam dahulu pada semua safar beliau kebiasaan beliau adalah mengerjakan shalat zhuhur dua raka’at dan shalat ashar dua raka’at dan isya’ dua raka’at, dan beliau menjamak jika sedang dalam perjalanan. Adapun jika beliau sedang tidak dalam perjalanan dan tinggal sementara di sebuah tempat, maka seringnya beliau tidak menjamak, sehingga beliau mengerjakan semua shalat pada waktunya. Hal itu sebagaimana yang beliau lakukan pada Haji Wadda’ ketika beliau tinggal beberapa hari di al-Abthah dan Mina, di mana beliau mengerjakan semua shalat pada waktunya dan tidak menjamak. Ini adalah yang terakhir yang diriwayatkan dari beliau shallallahu alaihi was sallam, dan terdapat riwayat yang shahih bahwa beliau menjamak pada perang Tabuk dalam keadaan beliau tidak sedang dalam perjalanan, itu kejadiannya pada tahun 9 H. Hanya Allah saja yang memberi taufiq.

? Sumber || http://www.binbaz.org.sa/fatawa/4630

📶 Publikasi
⏬⏬⏬
•••••••••••••••••
🌠📝📡🗃 Media al-Haq
Menebar Cahaya Kebenaran

📟▶️ Join Telegram https://telegram.me/buletinalhaq
💻 Situs Resmi http://www.buletin-alhaq.net

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bagaimana agar Shalatmu diterima wahai Saudaraku (1)

Bagaimana agar Shalatmu diterima wahai Saudaraku (1)

Wahai pembaca rahimakumullah, ketahuilah sahalat seseorang tidak akan sah kecuali jika memenuhi syarat, rukun dan perkara wajib serta menghindari hal-hal yang membatalkannya.

Syarat-Syarat Shalat

Secara bahasa, syuruuth adalah bentuk jamak dari kata syarth yang berarti alamat. Sedangkan menurut istilah adalah apa-apa yang keaadaannya menyebabkan ketidakadaan (tidak sah), tetapi adanya tidak mengharuskan (sesuatu itu) ada (sah).

Contohnya: jika tidak ada thaharah (kesucian) maka shalat tidak ada (yakni tidak sah), tetapi adanya thaharah tidak berarti  adanya shalat (belum memastikan sahnya shalat, karena masih harus memenuhi syarat-syarat yang lainnya, rukun-rukunnya, hal-hal yang wajibnya dan menghindari hal-hal yang membatalkannya, pent.). Adapun yang dimaksud dengan syarat-syarat shalat di sini ialah syarat-syarat sahnya shalat tersebut.

Adapun syarat-syaratnya ada sembilan: Islam, berakal, tamyiz (dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk), menghilangkan hadats, menghilangkan najis, menutup aurat, masuknya waktu, menghadap kiblat, niat.

Penjelasan Sembilan Syarat Sahnya Shalat

  1. Islam. Lawannya adalah kafir.

Orang kafir amalannya tertolak walaupun dia banyak beramal. Dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik untuk memakmurkan masjid-masjid

Allah padahal mereka menyaksikan atas diri mereka kekafiran. Mereka itu, amal-amalnya telah runtuh dan di dalam nerakalah mereka akan kekal.” (At-Taubah: 17).

  1. Berakal. Lawannya adalah gila.

Orang gila terangkat darinya pena (tidak dihisab amalannya) hingga dia sadar, dalilnya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Diangkat pena dari tiga golongan: Orang tidur hingga dia bangun, orang gila hingga dia sadar, anak-anak sampai ia baligh.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

  1. Tamyiz.

Yaitu anak-anak yang sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, dimulai dari umur sekitar tujuh tahun. Jika sudah berumur tujuh tahun maka mereka diperintahkan untuk melaksanakan shalat, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun

dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun (jika mereka enggan untuk shalat).” (HR. al-Hakim, al-Imam Ahmad dan Abu Dawud).

  1. Menghilangkan hadats (berthaharah).

Hadats ada dua: hadats akbar (hadats besar) seperti janabah dan haid, dihilangkan dengan mandi (yakni mandi janabah), dan hadats ashghar (hadats kecil) dihilangkan dengan wudhu`, sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah tidak akan menerima shalat orang yang berhadats hingga dia berwudlu`.” (Mutiafaqun ‘alaih).

  1. Menghilangkan najis.

Menghilangkan najis dari tiga hal: badan, pakaian dan tanah (tempat shalat), dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan pakaianmu maka sucikanlah.” (Al-Muddatstsir: 4).

  1. Menutup aurat.

Menutupnya dengan apa yang tidak menampakkan kulit (dan bentuk tubuh), berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah tidak akan menerima shalat wanita yang telah haid

(yakni yang telah baligh) kecuali dengan khimar (pakaian yang menutup seluruh tubuh, seperti mukenah).” (HR. Abu Dawud).

Al-Imam Ibnu Abdil Bar rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat atas batalnya orang yang shalat dalam keadaan terbuka auratnya padahal dia mampu mendapatkan penutup aurat.” (At-Tamhid, 6/379).

Batas aurat laki-laki ialah dari pusar hingga ke lutut, sedangkan wanita maka seluruh tubuhnya aurat selain wajahnya selama tidak ada ajnaby (orang yang bukan mahramnya) yang melihatnya,

namun jika ada ajnaby maka sudah tentu wajib baginya untuk menutup wajahnya juga. Di antara dalilnya ialah firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap

(memasuki) masjid.” (Al-A’raf:31) Yakni tatkala shalat. Dan hadits Salamah bin al-Akwa` radhiallahu ‘anhu, “Kancinglah ia (baju) walau dengan duri.”.

  1. Masuk waktu shalat.

Dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa`: 103).

  1. Menghadap kiblat.

Dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil-Haram, dan di mana saja kalian berada maka palingkanlah wajah kalian ke arahnya.” (Al-Baqarah: 144).

  1. Niat.

Tempat niat ialah di dalam hati, sedangkan melafazhkannya adalah perkara yang baru dalam agama (karena tidak ada dalilnya). Dalil wajibnya niat adalah hadits yang masyhur, “Sesungguhnya amal-amal itu didasari oleh niat dan sesungguhnya setiap orang akan diberi (balasan) sesuai niatnya.”(Mutiafaqun ‘alaih dari ‘Umar Ibnul Khaththab).

Rukun-Rukun Shalat

Rukun-rukun shalat ada 14, berikut penjelasan rukun-rukun tersebut:

  1. Berdiri tegak pada shalat fardu bagi yang mampu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda, “Shalatlah dengan berdiri…” (HR. al-Bukhari).

  1. Takbiratul ihram. yaitu ucapan:

‘Allahu Akbar’, tidak boleh dengan ucapan lain. Dalilnya hadits, “Pembukaan (dimulainya) shalat dengan takbir dan penutupnya dengan salam.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan al-Hakim).

  1. Membaca al-Fatihah.

Membaca al- Fatihah adalah rukun pada setiap raka’at, sebagaimana dalam hadits, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca al-Fatihah.” (Mutiafaqun ‘alaih).

  1. Ruku’.
  2. Iktidal (berdiri tegak) setelah ruku’.
  3. Sujud dengan tujuh anggota tubuh.
  4. Bangkit darinya.

Dalil dari rukun rukun ini adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman ruku’lah dan sujudlah.” (Al-Hajj: 77). Dan Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Saya telah diperintahkan untuk sujud dengan tujuh sendi.” (Mutiafaqun ‘alaih).

  1. Duduk di antara dua sujud.

Sebagaimana ucapan Aisyah radhiallahu ‘anha, “dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengangkat kepalanya dari sujud, tidaklah beliau sujud (kembali) hingga benar-benar duduk.” (HR. Muslim).

  1. Thuma’ninah dalam semua amalan.
  2. Tertib antara tiap rukun.

Dalil rukun-rukun ini adalah hadits musi’ush shalat (orang yang salah shalatnya) yang cukup panjang, intinya: ketika orang tersebut telah mengerjakan shalat dan datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau menjawab salamnya beliau pun memerintahkannya untuk kembali dan mengulangi shalatnya. Dan hal ini terulang sampai tiga kali. lalu ia berkata, “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran sebagai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya tidak sanggup melakukan yang lebih baik dari ini, maka ajarilah saya!” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Jika kamu berdiri hendak melakukan shalat, takbirlah, baca apa yang mudah (yang kamu hafal) dari al-Qur`an, kemudian ruku’lah hingga kamu tenang dalam ruku’, lalu bangkit hingga kamu tegak berdiri, sujudlah hingga kamu tenang dalam sujud, bangkitlah hingga kamu tenang dalam duduk, lalu lakukanlah hal itu pada semua shalatmu.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan al-Hakim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu).

  1. Tasyahhud akhir.

Tasyahhud akhir termasuk rukun shalat sesuai hadits dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, lafazh tasyahhud bisa dilihat dalam kitab-kitab yang membahas tentang shalat seperti kitab Shifatu Shalatin Nabi, karya asy-Syaikh al-Albani dan kitab yang lainnya.

  1. Duduk tasyahhud akhir.

Sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika seseorang dari kalian duduk dalam shalat maka hendaklah ia mengucapkan At-Tahiyyat.” (Mutiafaqun ‘alaih).

  1. Shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika seseorang dari kalian shalat… (hingga ucapan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam) lalu hendaklah ia bershalawat atas Nabi.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

  1. Dua kali salam.

Sesuai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “…dan menutup shalat dengan salam.” (HR. Muslim).

Inilah sekilas penjelasan tentang syarat-syarat dan rukun-rukun shalat yang harus diperhatikan dan dipenuhi dalam setiap melakukan shalat karena kalau meninggalkan salah satu rukun shalat baik dengan sengaja atau pun lupa maka shalatnya batal, harus diulang dari awal.

Wallaahu A’lam bish shawab.

Sumber: http://salafy.or.id/blog/2005/07/11/seputarmasalah-sholat-syarat-rukun-dan-wajib-sholat/

Shaum di Bulan Suci Ramadhan

Shaum di Bulan Suci Ramadhan

Hukum dan Kedudukan Puasa Ramadhan Dalam Islam

Berpuasa Ramadhan hukumnya wajib bagi setiap hamba Allah ‘azza wa jalla yang memenuhi pensyaratan. Diantara dalilnya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (al-Baqarah: 183).

Defenisi Puasa

Ulama menerangkan bahawa kata ash-shiyam (الصِّيَامُ) atau ash-shaum (الصَّومُ) secara makna bahasa merupakan mashdar (kata dasar) dari kata shama (صَامَ) dan yashumu (يَصُوْمُ) yang bermakna menahan.

Definisi secara istilah syariat adalah, “Puasa adalah peribadatan kepada Allah ‘azza wa jalla dengan cara menahan diri dari makan, minum dan pembatal-pembatal puasa lainnya mulai terbit fajar hingga terbenam matahari.” (Asy-Syarh Al-Mumti’ 6/310, karya Al-Imam Ibnu Utsaimin).

Syarat-Syarat Wajibnya Berpuasa Ramadhan

  1. Muslim. Seorang yang kafir tidak diwajibkan berpuasa dan tidak sah melakukannya.
  2. Baligh. Tidak ada ketentuan pembebanan syariat terhadap anak kecil yang belum baligh.
  3. Berakal. Tidak ada ketentuan pembebanan syariat terhadap orang yang tidak berakal.
  4. Mampu. Tidak ada ketentuan pembebanan syariat terhadap orang yang tidak mampu.

Al-Imam Ibnu ‘Utsaimin  menerangkan dalam kitab Asy-Syarh Al-Mumti’ menyatakan bahwa ketidakmampuan seseorang yang menjadi uzur baginya untuk tidak berpuasa, terbagi menjadi dua jenis:

  1. Jenis ketidakmampuan yang bersifat tidak tetap karena sakit yang masih berkemungkinan sembuh. Jenis ini mendapat rukhsah (keringanan) untuk tidak berpuasa selama uzur dan berkewajiban menggantinya dengan qadha puasa di luar Ramadhan.
  2. Ketidakmampuan yang bersifat tetap karena usia lanjut atau sakit yang tidak berkemungkinan sembuh. Jenis ini mendapat rukhsah (keringanan) untuk tidak berpuasa dan berkewajiban menggantinya dengan membayar fidyah (memberi makan fakir miskin).
  3. Mukim (tinggal menetap). Seseorang yang melakukan safar di bulan Ramadhan mendapat rukhsah (keringanan) untuk tidak berpuasa, tetapi wajib atasnya untuk menggantinya dengan melakukan qadha puasa di luar Ramadhan.
  4. Tidak Ada Penghalang. Yaitu terbebas dari haid dan nifas yang menghalangi untuk berpuasa.

Ketentuan Memasuki Ramadhan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berpuasalah kalian ketika melihat hilal Ramadhan dan berbukalah kalian (mengakhiri Ramadhan) ketika melihat hilal Syawal. Namun jika hilal tertutup (tidak jelas) atas kalian, sempurnakanlah jumlah Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari).

Ru’yah Hilal Ramadhan

Yang dimaksud dengan hilal adalah rembulan di fase awal yang menandai masuknya bulan Ramadhan atau bulan lainnya. Sebab utama kewajiban berpuasa Ramadhan adalah adanya ru’yah hilal Ramadhan. Jika hilal tidak terlihat, bulan Sya’ban wajib disempurnakan menjadi tiga puluh hari. Karena bulan yang didasarkan perhitungan hilal tidak mungkin lebih dari 30 hari dan tidak mungkin kurang dari 29 hari. Dalilnya,

“Sesungguhnya kita adalah umat yang tidak mengenal tulis menulis dan hitung menghitung. Satu bulan sejumlah ini dan sejumlah itu.” Maksudnya terkadang 29 hari dan terkadang 30 hari.“ (Mutatafaq ‘alaih).

Ketentuan Niat Puasa Wajib

Seseorang yang akan berpuasa wajib haruslah menetapkan niat puasanya itu di malam hari (sebelum tiba waktu subuh). Penetapan niat di malam hari itu hukumnya wajib dan termasuk syarat sahnya pelaksanaan puasa wajib. Berdasarkan dalil berikut,

“Amalan-amalan itu hanyalah (dilakukan) dengan niat, dan setiap orang hanyalah mendapatkan ganjaran dari apa yang diniatkannya.” (Muttafaq ‘alaih).

Memperbaharui Niat Puasa Ramadhan Setiap Hari

Diwajibkan memperbaharui niat puasa Ramadhan setiap hari. Alasannya, puasa di hari-hari Ramadhan adalah ibadah-ibadah yang berdiri sendiri dan tidak ada keterkaitan antara satu puasa dengan lainnya.

Sebagai bukti, jika puasa di hari itu batal, hal itu tidak mempengaruhi keabsahan puasa di hari sebelumnya. Pendapat ini dianggap rajih (kuat) oleh al-Imam asy-Syaukani dan difatwakan oleh al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai al-Imam Ibnu Baz rahimahullah. Pendapat ini yang lebih berhati-hati dalam masalah ini. (Asy-Syarh Al-Mumti’, 6/369-370).

Pembatal-Pembatal Puasa

Puasa batal dengan salah satu dari pembatal-pembatal puasa dengan syarat-syarat berikut:

  1. Melakukannya dengan sengaja.

“Tidak ada dosa bagi kalian atas apa yang kalian tersalah padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh kalbu (hati) kalian” (al-Ahzab: 5).

  1. Melakukannya dengan sadar (ingat atau tidak lupa).

“Barangsiapa yang lupa (tidak sadar) ketika ia berpuasa, lalu ia makan atau minum, hendaklah menyempurnakan (melanjutkan) puasanya…” (Muttafaq ‘alaih).

  1. Melakukannya dengan mengetahui (mempunyai ilmu) hukum perkara itu sebagai pembatal puasa dan mengetahui keadaan.

Asma’ bintu Abi Bakr radhiallahu ‘anha berkata, “Kami pernah berbuka pada masa hidup Nabi di hari yang mendung, kemudian matahari kembali muncul.” (HR. Bukhari).

Tidak dinukilkan bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan puasa mereka batal. Hal itu disebabkan ketidaktahuan mereka akan keadaan matahari yang belum terbenam karena terhalang mendung.

Rincian Pembatal Puasa dari Jenis Makan dan Minum

  1. Menelan sisa-sisa makanan di mulut ketika puasa.
  2. Menelan rasa makanan yang tersisa di mulut ketika puasa.
  3. Menelan rasa yang tersisa setelah bersiwak atau menyikat gigi dengan pasta gigi ketika puasa.
  4. Menelan darah (yang bersumber dari rongga mulut atau hidung) ketika puasa.
  5. Menelan dahak ketika puasa.
  6. Menelan sesuatu yang masuk melalui hidung. Menelan tetesan as-Sa’uth yang masuk ke kerongkongan juga termasuk dalam hal ini. As-Sa’uth adalah obat yang diteteskan melalui hidung (gurah). Barangsiapa melakukan gurah lalu merasakan tetesan as-Sa’uth itu masuk ke kerongkongannya dan ia pun menelannya dengan sengaja, puasanya batal. (mazhab al-Imam Malik, al-Imam Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin). Begitu pula dengan menghirup asap wangi pedupaan dengan sengaja. (al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai Ibnu Baz rahimahullah).
  7. Mendapatkan suntikan ketika puasa.

Suntikan memasukkan suatu zat melalui jarum suntik ke otot atau urat. Hal ini terbagi menjadi dua jenis:

  1. Ada yang bersifat sebagai sumber zat-zat makanan dan minuman bergizi serta penguat bagi tubuh, yaitu suntikan infus (cairan makanan). Suntikan ini membatalkan puasa karena memiliki fungsi dan kedudukan yang sama dengan makan dan minum.
  2. Ada pula yang bersifat suntikan biasa yang tidak bersifat sebagai nutrisi tubuh yang menguatkannya, yaitu suntikan obat atau vitamin. Suntikan ini tidak membatalkan puasa. Inilah yang difatwakan oleh al-Imam al-Albani, Ibnu Baz, al-Lajnah ad-Da’imah dan Ibnu Utsaimin rahimahullah.

Hal-hal yang Tidak Termasuk dalam Kategori Makan dan Minum yang Membatalkan Puasa

  1. Menelan ludah dan air liur.
  2. Menelan debu jalanan.
  3. Merasai makanan/minuman tanpa menelannya. Hal ini makruh hukumnya bagi yang tidak berkepentingan untuk melakukannya. Adapun yang berkepentingan, tidak mengapa melakukannya, seperti orang yang sedang memasak atau yang hendak membeli satu jenis makanan/minuman.
  4. Menggunakan siwak.
  5. Menggunakan pasta gigi.
  6. Mandi, bagi orang yang berpuasa diperbolehkan dan tidak membatalkan puasa disertai kehatihatian agar tidak menelan air mandi melalui mulut dan hidung.
  7. Memakai tetes mata dan tetes telinga yang rasanya sampai ke kerongkongan hingga tertelan. Hal ini tidak mengapa dan tidak membatalkan puasa.
  8. Penggunaan minyak yang dioleskan di kulit atau rambut tidak mengapa dan tidak membatalkan puasa. Hal ini adalah sesuatu yang umum dilakukan oleh kaum muslimin di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam….
  9. Bau-bauan berupa wewangian dan selainnya yang hanya mengeluarkan bau, tidak mengeluarkan zat yang terlihat yang akan terhirup dan tertelan. Sifat seperti ini tidak membatalkan puasa. Ini difatwakan oleh al-Imam Ibnu Taimiyah, al-Lajnah ad-Da’imah dan Ibnu Utsaimin rahimahullah.

Wallahu a’lam bish shawab.

(Faedah dari Kitab Manhajus Salikin wa Taudhih Al-Fiqhi fid Din -Kitab Ash-Shiyam-, karya Al-Imam Abdurrahman as-Sa’di, disyarah al-Ustadz Muhammad as-Sarbini, diterbitkan oleh Oase Media).

UNTUKMU YANG BERTANYA TENTANG TATA CARA WUDHU YANG BENAR

UNTUKMU YANG BERTANYA TENTANG TATA CARA WUDHU YANG BENAR

Mengetahui tata cara wudhu yang benar adalah perkara yang sangat penting dikarenakan wudhu adalah ibadah yang sangat agung dan merupakan syarat sahnya shalat seseorang. Disamping itu, dengan wudhu yang benar (dilandasi dengan niat yang ikhlas) kita akan mendapatkan banyak keutamaan yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya.

Pengertian Wudhu
Menggunakan air pada anggota tubuh yang empat yaitu wajah, kedua tangan, kepala dan kedua kaki menurut sifat/tata cara tertentu (secara syar’i) dalam rangka beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. (Al-Fiqh al-Muyasar, hlm 33).

Keutamaan Wudhu
Wudhu mempunyai keutamaan yang sangat banyak, diantaranya:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang membaguskan wudhu keluarlah dosa-dosanya dari jasadnya sampai keluar dari  bawah kukunya.” (HR. Muslim  no. 245).

Syarat-syarat Wudhu
Wudhu mempunyai syarat-syarat yang sebagiannya merupakan syarat-syarat ibadah yang lainnya juga. Yaitu :
1.    Islam.
2.    Berakal, maka orang gila tidak diterima wudhunya, karena dia tidak berakal.
3.    Tamyiiz (mampu membedakan yang baik dan yang buruk).
4.    Niat.
5.    Wajib menggunakan air yang suci, tidak boleh menggunakan air yang najis.
6.    Wajib menghilangkan apa yang dapat menghalangi sampainya air ke kulit seperti tanah, cat dan yang lainya.
(Ar-Raudul Murbi’: 189, al-Mulakhas al-Fiqhy: 1/41)

Fardhu-Fardhu Wudhu
Menurut pendapat yang benar bahwasanya wajib dan fardhu mempunyai makna yang sama tidak ada perbedaan. Fardhu-fardhu wudhu ada enam yaitu: mencuci wajah termasuk bagian wajah berkumur-kumur dan istinsyaq, mencuci kedua tangan sampai siku, mengusap kepala seluruhnya dan termasuk bagian kepala kedua telinga, membasuh kedua kaki, tartib (berurutan), muwaalaat (berkesinam-bungan/tidak teputus).(Silakan lihat kitab Duruus Al-Muhimmah li ‘Aammatil Ummah, asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah).
Dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla,
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian hendak berdiri mengerjakan shalat, basuhlah wajah-wajah kalian, kemudian tangan-tangan kalian sampai siku, kemudian usaplah kepala-kepala kalian, kemudian basuhlah kaki-kaki kalian sampai kedua mata kaki.”  (al-Maidah: 6).

Tata cara Wudhu
1. Niat.
Yaitu berniat di dalam hatinya untuk berwudhu menghilangkan hadats atau dalam rangka untuk mendirikan shalat.
2. Tasmiyah (membaca Basmalah).
Disyariatkan ketika seseorang hendak berwudhu untuk membaca basmalah, hal ini  berdasarkan dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Tidak ada shalat (tidak sah) orang yang shalat tanpa berwudhu dan tidak ada wudhu (tidak sah) wudhunya seseorang yang tidak menyebut nama Allah.” (HR. Abu Dawud no. 101, Ibnu Majah no. 397, dan at-Tirmidzi no. 25 dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani di Irwa’ no. 81 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu).
Jumhur (mayoritas ulama) berpendapat membaca basmalah ketika berwudhu hukumnya sunnah. Wallahu a’lam bish shawwab.
3. Membasuh kedua telapak tangan tiga kali.
Hal ini berdasarkan banyak hadits, diantaranya yang diriwayatkan oleh Humran tentang praktek wudhu Rasulullah n yang dilakukan oleh Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhuma,
“… (sampai pada) lalu beliau (Utsman) menuangkan air ke kedua telapak tangannya dari wadah tersebut maka dibasuhlah (dicuci) sebanyak tiga kali..” (HR. Bukhari no. 159 dan Muslim no. 423).
4. Madhmadhah (berkumur-kumur), Istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung dengan menghirupnya) dan istinsyar (mengeluarkan air dari hidung).
Hal ini berdasarkan banyak hadits, diantaranya yang diriwayatkan oleh Humran tentang praktek wudhu Rasulullah n yang dilakukan oleh Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhuma,
“… (sampai pada) beliau lantas mencelupkan tangan kanannya ke dalam air tersebut kemudian berkumur-kumur, istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) dan istinsyar (mengeluarkan-nya)…” (HR. Bukhari dan Muslim).
5. Membasuh wajah.
Membasuh wajah adalah mulai dari tempat tumbuhnya rambut kepala menuju ke bagian bawah kumis dan jenggot sampai pangkal kedua telinga, hingga mengenai persendian yaitu bagian wajah yang terletak antara jengot dan telinga.
Hal ini berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla yang telah kita sebutkan di atas pada surat al-Maidah:6. Dan berdasarkan banyak hadits, di antaranya yang diriwayatkan oleh Humran tentang praktek wudhu Rasulullah n yang dilakukan oleh Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhuma,
“… (sampai pada) Kemudian mencuci wajahnya sebanyak tiga kali..” (HR. Bukhari dan Muslim).
6. Membasuh kedua tangan sampai ke siku.
Hal ini berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla yang telah kita sebutkan di atas pada surat al-Maidah: 6. Lafadz (إلى) pada ayat ini bermakna (bersama :مع ), maka wajib untuk memasukkan siku dalam penyucian kedua tangan.Dan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Humran tentang praktek wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dilakukan oleh Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhuma,
“… (sampai pada) mencuci kedua tangannya sampai kesiku sebanyak tiga kali…” (HR. Bukhari dan Muslim).
7. Mengusap kepala seluruhnya termasuk telinga.
Hal ini berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla yang telah kita sebutkan di atas pada surat al-Maidah: 6. Dan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Humran tentang praktek wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dilakukan oleh Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhuma,
“… (sampai pada) kemudian mengusap kepalanya” (HR. Bukhari dan Muslim).
8. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki.
Hal ini berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla yang telah kita sebutkan di atas pada surat al-Maidah: 6. Dan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Humran tentang praktek wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dilakukan oleh Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhuma,
““… (sampai pada) kemudian mencuci kedua kakinya sebanyak tiga kali.”
9. At-Tartiib.
Membasuh anggota wudhu satu demi satu dengan urutan yang sebagaimana Allah dan rasul-Nya perintahkan. Hal ini berdasarkan dalil ayat dan hadits yang menjelaskan tentang sifat wudhu. Dan juga berdasarkan hadits,
“Mulailah dengan apa yang Allah mulai dengannya.” (HR. Muslim no 1118).
10. Al-Muwaalaat (berkesinambungan dalam berwudhu sampai selesai tidak terhenti atau terputus).
Hal ini berdasarkan sebuah hadits dari  Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwasanya seseorang berwudhu, bagian kuku pada kakinya tidak  terkena air wudhu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandangnya dan berkata,
“Kembalilah, baguskanlah wudhumu, kemudian orang tersebut kembali berwudhu kemudian shalat.” (HR. Muslim no 243).
11. Doa atau Dzikir setelah wudhu.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Tidaklah salah seorang diantara kalian berwudhu dan sampai selesai atau menyempurnakan wudhu kemudian membaca doa:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

“ Aku bersaksi tidak ada ilah (sesembahan) yang berhaq disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya, melainkan akan dibukakan baginya delapan pintu surga yang dia bisa masuk dari pintu mana saja yang dia kehendaki.” (HR. Muslim).
Hukum membacanya adalah sunnah sebagaimana diakatakan oleh al-Imam an-Nawawi rahimahullah di dalam Syarh Shahih Muslim.

Pembatal-Pembatal wudhu
1. Buang air besar.
2. Buang air kecil.
3. Buang angin.
4. Keluarnya Madzi (keluarnya lendir bening yang encer dan bersifat lengket karena adanya syahwat tanpa disertai rasa nikmat dan keluarnya tidak memancar).
5. Keluarnya Wadi (cairan putih yang kental dan mirip dengan mani tetapi wadi keruh dan tidak berbau, biasanya keluar satu atau dua tetes setelah kencing berakhir).
6. Keluarnya Mani (cairan putih yang kental yang keluarnya terpancar dan disertai rasa nikmat karena syahwat).
7. Tidur nyenyak.
8. Makan daging unta.

Wallahu a’lam bish shawwab

Sumber: inginbelajarislam.wordpress.com di tulis oleh Abu Ibrahim Abdullah bin Mudakir dan Panduan Syar’i Cara Bersuci pensyarah Abu ‘Abdillah Muhammad as-Sarbini.