☝🏻📖🎙 Membaca Al-Qur’an diantara Sebab Istiqamah

✒️ Al-‘Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,

☝🏻 “Diantara sebab terbesar agar hati tetap istiqamah dan selamat (adalah) perbanyak membaca al-Quran.”

📚 [ *Nur alad Darb, 12/20* ]

➖➖➖➖➖➖➖➖➖

‏قال العلامة ابن عثيمين رحمه الله:

ومن أكبر الأسباب لاستقامة القلب وسلامته، كثرة قراءة القرآن.

📔 نورعلى الدرب/12-20

__________
📟 ⏩ Join Telegram http://telegram.me/buletinalhaq
💻 ⏩ Situs Resmi http://www.buletin-alhaq.net
__________
🗃 *Group Media al-Haq* 🗃

Termasuk dari Sunnah manusia menghadap sang khatib hari Jum’at

📜 Dari Muthi’ bin al-Hakam —radhiyallahu anhu—,

👉🏻 “sesungguhnya Nabi shallallahu’alaihi wasallam dahulu ketika menaiki mimbar kami menghadapkan wajah-wajah kami kepadanya”.

📚 [ As-Silsilah Ash-Shahihah: 2080 ]

➖➖➖➖➖➖➖➖➖

🌴 من السنة استقبال الناس للخطيب يوم الجمعة

عن مطيع بن الحكم -رضي الله عنه- :
« أن النبي صلى الله عيه وسلم كان إذا صعد المنبر ؛ أقبلنا بوجوهنا إليه »

📜 [السلسلة الصحيحة:2080]

______
📟 ⏩ Join Telegram http://telegram.me/buletinalhaq
💻 ⏩ Situs Resmi http://www.buletin-alhaq.net
______
🗃 Group Media al-Haq 🗃

KELUARGA YANG SELAMAT DARI SETAN

Berkata Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahulloh.

Ketika sebuah keluarga terus memperbanyak membaca Al Qur’an, semakin banyak mempelajari hadits-hadits Rasululloh Shollallohu’alaihi wasallam, semakin banyak berdzikir, bertasbih dan bertahlil, maka keluarga tersebut semakin selamat dari setan-setan, dan semakin jauh dari mereka.

Sebaliknya, ketika sebuah rumah dipenuhi dengan kelalaian, sebab-sebab yang melalaikan, musik-musik, perkara yg sia sia, dan ucapan ucapan yang tidak berguna, sungguh rumah itu akan semakin dekat (dipenuhi) setan setan yang terus mendorong (mengupayakan) kebatilan….

@AISARibnuljazari

⬇⬇⬇

📚 Dapatkan info-info media ahlussunnah wal jama’ah dan kumpulan faedah Islami (artikel,fatawa, buletin, poster, audio dan video) di Channel Telegram Buletinalhaq.

______ 📟 ⏩ Join Telegram http://telegram.me/buletinalhaq 💻 ⏩ Situs Resmi http://www.buletin-alhaq.net

🗃 Group Media al-Haq 🗃

Musbil Tanpa Disertai Sikap Sombong

Ada sekelompok orang yang kurang bisa menerima hukum isbal secara mutlak. Alasan mereka adalah sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 3665) dan Muslim (no. 2085) dari sahabat Ibnu Umarradhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ مِنَ الْخُيَلَاءِ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa menyeret pakaiannya (melebihi mata kaki) karena sombong, Allah Subhanahu wata’ala tidak akan memandangnya pada hari kiamat nanti.”

Kata mereka, “Larangan isbal hanya berlaku untuk orang yang sombong saja! Jika tidak disertai sikap sombong, tidak mengapa.” Jika berdasarkan ilmu kita berbicara, bukan hawa nafsu; jika di atas sikap hormat kepada hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kita berhukum, tidak dengan menurutkan kesenangan hati; jika tidak mengambil sikap seenaknya kita sendiri, menerima satu hadits dan menolak hadits yang lain, walau tidak diakui secara lisan; tentu setiap hadits dapat diposisikan sebagaimana mestinya. Lihat dan teladanilah sikap para ulama. Mengenai hal ini, mereka merincinya menjadi dua masalah.

1. Musbil disertai sikap sombong

Orang semacam inilah yang dimaksud oleh hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu di atas. Orang seperti inilah yang diancam dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ada tiga golongan manusia pada hari kiamat nanti. Allah Subhanahu wata’ala tidak berbicara kepada mereka, tidak memandang ke arah mereka, dan tidak menyucikan mereka. Untuk mereka azab yang pedih.”

2. Musbil tanpa diikuti oleh sikap sombong

Orang semacam ini siksanya di bawah tingkatan siksa jenis orang pertama. Orang seperti inilah yang dimaksud dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas. Orang semacam inilah yang diancam dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sarung yangberada di bawah kedua mata kaki, ada di dalam neraka.” (Fatwa al-Utsaimin, Nur ‘alad Darb)

Pendapat para ulama di atas didukung oleh sebuah riwayat dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4093), an-Nasa’i (no. 9714—9717), Ibnu Majah (no. 3573), dan yang lain, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah (no. 2017). Di dalam riwayat tersebut, dua keadaan di atas disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam secara berbeda dalam satu konteks. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,

مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِي النَّارِ، مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ

“Pakaian yang berada di bawah mata kaki, ada di dalam neraka. Barang siapa menyeret pakaiannya (melebihi mata kaki) karena sombong, Allah Subhanahu wata’ala tidak akan memandangnya.”

Jadi, sabda Nabi, “Barang siapa menyeret pakaiannya (melebihi mata kaki) karena sombong, Allah Subhanahu wata’ala tidak akan memandangnya”, tidak berarti apabila isbal tidak disertai sikap sombong maka boleh. Bukan seperti itu hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dipahami! Hal lain yang perlu dicermati juga adalah Abdullah bin Umarradhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah sahabat yang meriwayatkan hadits larangan isbal dengan disertai sikap sombong. Bagaimanakah praktik Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhudalam hal ini? Bukankah beliau lebih layak untuk diteladani dalam memahami hadits tersebut? Ternyata, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma yang meriwayatkan hadits tentang larangan musbil dengan disertai sikap sombong, pada praktiknya menggunakan kain sarung di atas mata kaki, bahkan di pertengahan betis. Al-Imam Muslim rahimahullah (no. 2086) meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, beliaubercerita, “Aku pernah bertemu RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan kain sarungku turun. Lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegur, ‘Wahai Abdullah, tinggikan kain sarungmu!’ Aku pun mengangkatnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap mengatakan, ‘Naikkan lagi!’ Aku pun mengangkatnya lebih tinggi. Setelah itu, aku selalu menjaga kain sarungku dalam posisi seperti itu.” Ada yang bertanya, “Sampai batas mana?” Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma menjawab, “Sampai pertengahan betis.” Bagaimana dengan Atsar tentang Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu?Sekelompok kecil orang di atas ternyata masih berusaha mencari alasan dan pembenaran, walau sangat dipaksakan. Kata mereka, “Abu Bakr juga terkadang musbil dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallammenyatakan kepada beliau, ‘Sungguh, engkau tidak termasuk yang melakukan isbal dengan disertai sikap sombong’.” Mereka memahami, “Jadi, larangan itu hanya berlaku pada orang musbil yang bersikap sombong. Jika tidak,boleh-boleh saja!” Pembaca, semoga Allah Subhanahu wata’ala menjaga Anda, marilah kita mencermati hadits tentang Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu lebih dekat. AbuBakr radhiyallahu ‘anhu berkata,

إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ إِنَّكَ لَسْتَ : ذَلِكَ مِنْهُ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلَاءَ

“Sungguh, salah satu bagian pakaianku selalu turun, namun aku selalu menjaganya agar tidak turun.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya engkau tidak termasuk yang melakukannya karena sikap sombong.” (HR. al- Bukhari no. 5447)

Ada beberapa hal yang harus dicermati tentang keadaan Abu Bakr di atas:

1. Tidak ada faktor kesengajaan isbal dari Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu.

2. Upaya Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu untuk selalu menaikkan kembali pakaiannya jika turun menutupi mata kaki.

3. Yang terkadang turun menutupi mata kaki Abu Bakr adalah salah satu sisi pakaiannya. Artinya, sisi pakaian yang lain berada di atas mata kaki.

4. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallammerekomendasi Abu Bakr radhiyallahu ‘anhusebagai orang yang tidak sombong. Pertanyaannya, ”Apakah riwayat tentang Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dapat disamakan dengan kaum musbil yang dengan sengaja telah melakukan isbal? Apakah mereka selalu berusaha menaikkan celana jika mulai menutupi mata kaki? Siapa yang merekomendasi mereka bebas dari sikap sombong?” Praktik Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Para Sahabat Lihatlah praktik para sahabat dalam hal ini. Abu Ishaq bertutur, “Aku pernah melihat beberapa orang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka menggunakan sarung sampai di tengah betis, di antaranya Ibnu Umar, Zaid bin Arqam, Usamah bin Zaid, dan al-Bara’ bin ‘Azib .” (Majma’ az- Zawaid)

Sumber :

Hukum Isbal

⚡️⚡️⚡️⚡️⚡️⚡️⚡️⚡️⚡️⚡️⚡️

__________
📟 ⏩ Join Telegram http://telegram.me/buletinalhaq
💻 ⏩ Situs Resmi http://www.buletin-alhaq.net
__________
🗃 *Group Media al-Haq* 🗃

AGAR RUQYAH DENGAN AL-FATIHAH BERMANFAAT

✍🏻 Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

الفاتحة رقية يشفى بها بإذن الله بشرطين :

Al-Fatihah itu adalah bacaan ruqyah yang bisa menyembuhkan dengan ijin Allah dengan dua syarat:

أن يقرأها بإيمان أنّها رقية نافعة

● Membacanya dengan keyakinan, kalau surat Al-Fatihah adalah ruqyah yang bermanfaat.

أن يقرأها على مريض مؤمن بأنها رقية

● Membacanya kepada orang sakit yang meyakini kalau surat Al- Fatihah adalah ruqyah.

(Syarh Riyadh 3/203)

📚 Sumber || Channel Ala Khutha Ash-Shahabiyaat

⚪️ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || Forum Salafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
📲 Turut Publikasi
__________
📟 ⏩ Join Telegram http://telegram.me/buletinalhaq
💻 ⏩ Situs Resmi http://www.buletin-alhaq.net
__________
🗃 Group Media al-Haq 🗃

HAL INI MENYEBABKAN ANDA MENINGGALKAN SUNNAH NABI

✍🏻 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

🍲 “Di antara karakter tubuh kita jika lapar, lalu mengambil makanan kebutuhannya, dia tidak perlu kepada makanan lain. Jika dia memakannya, dia memakannya dengan rasa benci. Bahkan kadang makanannya itu justru memudharatinya dan tubuhnya tidak mengambil manfaat darinya. Makanan yang akhir tadi bukanlah makanan yang memberinya nutrisi dan menegakkan badannya.

‼️ Begitu pula hamba, jika dia mengambil sebagian kebutuhannya dari amalan yang tidak disyariatkan, menjadi sedikit kecintaannya dan manfaatnya pada amalan yang disyariatkan. Tergantung dengan seberapa dia mengganti amalan yang disyariatkan dengan yang tidak disyariatkan.

💐 Berbeda dengan orang yang hanya mengambil kebutuhan dan tekadnya pada yang disyariatkan saja. Akan besar kecintaan dan manfaatnya. Akan sempurna agamanya dan lengkap keislamannya.

📖 Oleh sebab itu, engkau dapati orang yang sering mendengarkan kasidah (musik yang dianggap Islami) untuk mencari keshalihan kalbunya, berkurang kecintaannya untuk mendengar Al Quran, bahkan terkadang membencinya.

🕋 Orang yang sering safar untuk mengunjungi monumen peringatan atau selainnya, tidak tersisa di kalbunya kecintaan dan pengagungan kepada haji ke Baitul Haram. Yang mana, kecintaan dan pengagungan ini ada pada kalbu orang yang telah diluaskan oleh sunnah.

📃 Orang yang terbiasa mengambil hikmah dan adab dari ahli hikmah Persia dan Romawi, tidak memberi pengaruh di dalam kalbunya hikmah dan adab Islam.

📖 Orang yang terbiasa membaca kisah dan biografi para raja, tidak tersisa perhatian di dalam kalbunya terhadap kisah para nabi. Dan yang semisal ini banyak.

☝🏻 Karena itu, datang dalam hadis, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

«ما ابتدع قوم بدعة إلا نزع الله عنهم من السنة مثلها» رواه الإمام أحمد.

“Tidaklah suatu kaum mengadakan suatu hal yang diadakan dalam agama ini, kecuali Allah mencabut dari mereka sunnah (ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) yang semisalnya.” HR. Imam Ahmad

📚 Iqtidha Ash Shirathil Mustaqim
•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈
#sunnah #bidah #SyaikhulIslam #hikmah
🌏 Website: tashfiyah.com ||
🔶💠🔶💠🔶💠🔶💠🔶💠💠
📲 BAGIKAN ARTIKEL INI, siapa tahu ada yang beramal karena Anda
“Siapa yg menunjukkan pada kebaikan, dia mendapat pahala seperti pelakunya.” [H.R. Muslim]

📶 Publikasi
⏬⏬⏬
🔶💠🔶💠🔶💠🔶💠🔶💠
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡🗃 Media al-Haq
Menebar Cahaya Kebenaran

📟▶ Join Telegram https://telegram.me/buletinalhaq
💻 Situs Resmi http://www.buletin-alhaq.net